Kamis, 10 Desember 2009

Sisi Lain Bahasa Penyampaian dari Al Qur-an

Berbicara tentang dimensi seni bahasa dan wahyu tentu tidak terlepas dari bahasa al-Quran. Karena gabungan dari format dan substansi sebuah ungkapan dalam sebuah bentuk seni merupakan media khusus dari jenis penyampaian. Di sisi lain, kajian bahasa al-Quran terkait erat dengan sisi teoritis pembahasan kita sekaligus pengantar kajian bentuk-bentuk seni al-Quran dan hal ini membuat kami perlu menjelaskan pengantar ini.

Sebagai contoh, di penghujung kajian bahasa al-Quran kami akan membahas juga tentang apakah bahasa al-Quran merupakan simbol? Bila demikian adanya, sejauh mana batasannya? Apa keterbatasan penyampaian simbol dan jawaban terhadap kemungkinannya? Apakah secara prinsip, mungkinkah kita dapat memahami bahasa simbol-seni al-Quran (dengan memperhatikan salah satu bentuk penyampaian sastera adalah simbol)? Dan atas prinsip dan metode tafsir atau takwil apa kita menerima bahwa al-Quran punya gaya tersendiri dan berbeda dengan teks-teks lainnya?

Kisah-kisah merupakan bagian tak terpisahkan dari al-Quran. Substansi yang ada dalam kisah-kisah itu disampaikan dalam format yang berbeda dari bentuk biasa penulisan sebuah kisah, gaya periwayatan. Di sinilah ketika kami mengatakan bahwa sebelum memasuki pembahasan metode seni al-Quran kita tidak menyatakan prinsip apa yang kita pakai terkait posisi simbol dalam al-Quran dan sebab-sebab pemakaiannya, niscaya kita akan mengalami masalah dalam pembahasan kisah-kisah al-Quran sebagai bentuk khusus dari penyampaian. Artinya, kita akan mengambil sikap seperti para pemikir kontemporer yang menyatakan bahwa seluruh kisah al-Quran hanya sekedar simbol, tidak lebih (dan ini berarti kita telah mengesampingkan sebuah pengertian yang disebut al-Quran dengan istilah “hidayah”. Dan bila kita meyakini semua kisah yang ada dalam al-Quran bukan simbol, niscaya kita akan terkungkung dalam dimensi lahiriah kisah-kisah tersebut. Di sini kita terkadang lupa betapa sebagian dari kisah-kisah selain al-Quran punya perbedaan yang cukup esensial dari sisi struktur.

Pengertian Bahasa al-Quran

Karya-karya peneliti terdahulu sebenarnya tidak kosong seluruhnya dari kajian bahasa al-Quran. Namun untuk menemukan metode modern pembacaan teks dengan bantuan ilmu semantik dan hermeneutik masih harus perlu penelitian mendalam, bila kita tidak ingin mengatakan masih kosong. Selain satu atau dua peneliti warga negara Arab, para peneliti al-Quran kontemporer tidak banyak melakukan riset dengan metode ini. Kini, sebagai sebuah perbandingan, dalam pembahasan yang berhubungan dengan hasil-hasil yang dicapai filsafat tentang agama, maka kini diperkenalkanlah apa yang disebut filsafat agama. Nah, bahasa agama yang dikaji dalam filsafat agama yang disampaikan secara umum itu dikajis secara serius dan khusus dalam studi bahasa al-Quran, di mana setidak-tidaknya hal itu dikaji dalam masalah kemungkinan memahami bahasa al-Quran.

Dengan dasar ini, muncul pertanyaan-pertanyaan seperti berikut: Apa sebenarnya makna dari pengertian-pengertian semacam ini yang bersumber dari bahasa al-Quran? Apa hubungannya dengan kesepakatan bahasa yang dipakai manusia? Mengapa bahasa al-Quran memakai simbol dan dalam kondisi seperti apa al-Quran memakainya? Apa kunci pembuka untuk memahami simbol-simbol tersebut dan bagaimana kita dapat sampai pada pengertian asli teks? Pendeknya, pertanyaan pokok dalam kajian bahwa al-Quran adalah bagaimana al-Quran berbicara? Saat menyampaikan pesannya. dalam format, konteks dan kondisi seperti apa al-Quran berbicara, sehingga dengan cara pandang itu kita dapat mengkaji al-Quran?

Kita tahu bahwa bagian dari hermeneutik modern adalah mengkaji metode-metode pemahaman dan takwil teks-teks suci sebagai karya sastera. Yakni, deskripsi bahasa simbol teks-teks suci dengan asumsi bahwa substansinya dapat diketahui lewas penjelasan metodologi bahasa dan ada penjelasan bagi hakikat makna yang berbeda-beda. Masalah ini sangat penting buat memahami al-Quran. Karena kita akan mendapatkan kasus-kasus dalam al-Quran di mana penjelasan dan bahasanya dengan bagian-bagian lain sangat berbeda. Sebagai contoh di sebagian ayat proposisi al-Quran mutlak bersifat laporan dan langsung (seperti kasus-kasus penjelasan hukum-hukum syariat) dan terkadang proposisi al-Quran mengambil bentuk lain. Hal ini kembali pada penjelasan al-Quran sendiri yang menyebutkan bahwa sebagian dari ayat-ayat al-Quran dapat ditakwil dan penakwilan itu hanya diketahui oleh Allah dan mereka yang disebut “Rasikhuna fil Ilm” (orang-orang yang mendalam ilmunya, Ali Imran : 7).

Jelas, perubahan penyampaian akan mengetengahkan klasifikasi khusus dalam metode penyampaian al-Quran yang dapat dikaji juga dalam tema bahasa al-Quran. Kini, berbagai pertanyaa di kemukakan yang berhubungan erat dengan al-Quran, sementara jawabannya hanya dapat ditelusuri dalam riset mengenai bahasa al-Quran. Sebagai contoh, lihat beberapa kasus berikut ini:

1. Dalam al-Quran ada tema-tema yang bila dipandang secara lahiriah tidak dapat dijelaskan dengan sains modern seperti masalah tujuh langit dan penciptaan Nabi Adam as dari tanah.

2. Dalam al-Quran terdapat ayat-ayat al-Quran yang makna lahiriahnya tidak sesuai dengan akidah Islam seperti, “Dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris” (al-Fajr : 22), “Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy” (Thahaa : 5), “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka Melihat (al-Qiyamah : 22-23).

3. Pertanyaan-pertanyaan penting dan sulit biasanya terkait dengan kajian bahasa al-Quran dan itu terkait dengan masalah ayat-ayat al-Quran yang tidak kontinyu dan sinkron. Menurut sebagian pemikir, kekhususan gaya al-Quran dalam permulaan tahapan membaca adalah menarik perhatian dan tidak seperti biasanya, tidak kontinyu dan tidak memiliki bentuk lahiriah yang harmonis serta sistem yang normal dan biasa dipakai.[1] Sebagai bukti kita lihat betapa surat al-Baqarah yang menjadi surat terpanjang dalam al-Quran memiliki tema-tema yang berbeda-beda dan asing satu dengan lainnya. Thaha Husein membongkar perbedaan yang ada dengan menjelaskan kandungan yang berbeda-beda dari surat ini.[2]

Kini, kami harus mengatakan bahwa mayoritas pakar al-Quran menilai perbedaan dan tidak ada keserasian lahiriah dalam ayat-ayat al-Quran terkait erat dengan kekhususan bahasa al-Quran yang memiliki “sistem suci” yang berlaku berbeda dengan sistem rasional yang ada. Kami mengenal sebagian pakar yang ketika menghadapi isu ketidakserasian lahiriah ayat-ayat al-Quran berusaha menjawab masalah ini dengan mengingkarinya. Kelompok ini tidak sadar bahwa sekalipun kita menerima asumsi sebelumnya bahwa ketidakserasian lahiriah ayat-ayat al-Quran adalah sebuah kekhususan metode al-Quran, hal ini tidak menafikan keraguan terhadap al-Quran dan wahyu sebagai satu kesatuan, atau sederhananya, kedua masalah ini tidak melazimi yang lain. Kelompok ini seperti Arthur John Arbury yang meyakini bahwa fluktuasi tiba-tiba kandungan dan arti merupakan susunan alamiah al-Quran.

Baiklah, tapi dalam pembahasan ini kita mendapati betapa fluktuasi dan irama tidak ditemukan di seluruh al-Quran. Saat kita menemukan fluktuasi dan irama dalam ayat-ayat al-Quran hal itu menciptakan bentuk yang berbeda dari bahasa yang ada dan dampaknya adalah kita harus memahaminya dengan cara yang lain. Masalah keserasian ayat-ayat al-Quran dapat ditemukan di kebanyakan para pakar al-Quran muslim terdahulu. Jalaluddin al-Suyuthi dalam bukunya “Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul” di akhir ayat 88 surat Isra’ dengan gamblang dia menjelaskan masalah ini.[3]

Bahasa Al-Quran

Maksud dari bahasa al-Quran dalam tulisan ini bukan bahasa dengan makna leksikal sehingga dengan itu kita memaknai bahasa al-Quran adalah bahasa Arab yang tunduk dengan struktur bahasa Arab dengan nahwu dan sharafnya “Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab” (Yusuf : 2). Bahasa al-Quran yang kami maksudkan adalah pilihan dan bentuk serasi dari penyampaian yang memiliki hubungan dengan pemahaman dan latar belakang pemikiran serta budaya yang disampaikan dalam sebuah format tertentu. Dengan dasar definisi ini kini kita dapat melihat al-Quran memakai bahasa apa ketika berbicara dengan manusia.

Tidak disangsikan bahwa bahasa al-Quran tidak sebagaimana bahasa manusia pada umumnya. Karena terkadang bahasa sangat toleran, tidak punya ketelitian awal dan aksiomatik. Dalil paling sederhana untuk menjelaskan masalah ini adalah sumber dari bahasa manusia pada umumnya adalah percakapan yang dilakukan antar mereka. Di sisi lain, ayat-ayat mutasyabihat al-Quran yang dipahami lewat takwil tidak akan dapat dipahami dengan cara pemahaman biasa.

Demikian juga, sekalipun al-Quran memiliki variabel yang dapat dilacak dalam bahasa Arab, namun jelas betapa al-Quran tidak mempergunakan keseluruhan metode sasteranya. Sebagai contoh, al-Quran tidak mempergunakan pengertian imajinasi dengan makna yang biasa dipergunakan dalam sastera terutama puisi. Karena dalam pengertian imajinasi selalu terkandung pengertian “kreasi” atau dengan kata lain membuat-buat. Sebuah pengertian yang berdasarkan kondisinya tidak hakiki dan jelas al-Quran tidak akan menggunakannya sesuai dengan posisinya. Sementara itu, sekalipun al-Quran menyampaikan pesannya dengan cara ilmiah, namun tidak menyampaikannya dengan bahasa ilmiah. Yakni, tidak dengan pengertian dan istilah ilmiah yang khusus dipakai para ilmuwan.

Sementra yang dimaksud dengan bahasa simbolik, sesuai dengan istilah, adalah bahasa yang dipakai tidak sesuai dengan arti awalnya. Tafsir yang ditulis dengan gaya sufi dan irfan lebih memakai bahasa yang demikian. Adanya sebagian simbol-simbol dalam al-Quran menunjukkan betapa al-Quran pun menggunakannya seperti penggunaan huruf muqattha’ah (huruf yang terputus-putus, cerita penciptaan (khususnya cerita sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam as), cerita pohon larangan, Nabi Adam as yang berbicara dengan malaikat, dialog Allah dengan malaikat, pengajaran nama-nama dan mengetahui kalimat oleh Nabi Adam as.

Bila kita ingin menyatakan bahwa bahasa yang lebih menguasai bahasa al-Quran adalah bahasa simbolik dengan bersandarkan ada contoh-contoh sebelumnya, maka tampaknya kita tengah mengambil sebuah metode yang akan bertentangan dengan tujuan penurunan al-Quran. Karena dalam kondisi ini, pesan ini al-Quran hanya sekedar sebuah pembicaraan dengan sejumlah khusus dari manusia-manusia pilihan seperti para Nabi dan Rasikhuna fil Ilm. Padahal sedikitnya satu level dari pemahaman al-Quran dikhususkan bagi orang-orang biasa seperti kita, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ali as yang menyebutnya sebagai makam “ibarat”.

Di sisi lain, al-Quran sendiri menilai dirinya sebagai “Dzikir” dan “Hidayah” yang tidak dikhususkan bagi kelompok tertentu “Bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia” (al-Baqarah : 185) dan “Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat” (al-Qalam : 52). Pembatasan bahasa al-Quran hanya untuk kelompok-kelompok tertentu tidak dapat diterima hanya dengan bukti kandungan al-Quran dan bahasa simbolik yang dipakainya.

Dengan demikian, bahwa al-Quran dengan sendirinya tidak termasuk dalam bagian dari yang telah disebutkan di atas, sekalipun mengandung contoh-contoh itu. Bahasa al-Quran adalah bahasa lain. Karena al-Quran adalah buku yang lain. Dengan memperhatikan betapa al-Quran menyampaikan ajaran-ajaran agama pamungkas, maka ia juga berisikan hal-hal yang dapat dipahami oleh masyarakat biasa. Artinya, setiap orang dapat memanfaatkannya sesuai dengan kemampuannya. Tentunya, maksud dari setiap orang bukan berarti tanpa syarat dan kondisi. Al-Quran sendiri menjelaskan bagi orang yang membacanya dengan niat memahami ada sifat-sifat tertentu buat mereka seperti “Mudzakkir” (pengingat) “Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (al-Qamar : 22), “Muslim” (berserah diri) “Petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (al-Nahl : 89), “Mukmin” (beriman) “Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (al-Isra’ : 82) dan lain-lain.

Ayat-ayat di atas membuktikan betapa al-Quran tidak dikhususkan bagi kelompok tertentu. Karena sekalipun al-Quran terkadang menggunakan cara penyampaian biasa, namun di sisi lain kita dapat melihat betapa banyak juga al-Quran tidak menggunakan pengertian-pengertian sederhana dan biasa. Contohnya adalah masalah takwil dan ayat-ayat mutasyabihat yang ada dalam al-Quran yang tidak mungkin dipahami langsung oleh setiap orang biasa. [Saleh Lapadi]

—————————————————————————

Catatan Kaki:

[1] . Sumber berikut ini menjawab masalah ini dengan melakukan perbandingan antara metode penyampaian dengan metode Gazal Hafez, Pour Javadi, Nasrullah, Darbaraye Hafez (artikel terpilih penerbit Danesh 1), Markaz Nashre Daneshgahi, cetakan ke-2, 1370, artikel “Uslub Hunari Hafez va Quran (Metode Seni Hafez dan al-Quran) yang ditulis oleh Bahauddin Khurramshahi, hal 3-20.

[2] . Lihat Thaha Husein, Ayineh Islam, terjemah Muhammad Ibrahim Ayati, cet ke-3, Nashre Resalat, Qom, hal 149-156.

[3] . Jalaluddin al-Suyuthi, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Tashih Abd al-Syafi, hal 126. Terkait dengan jawaban pertanyaan di atas dapat dirujuk ke buku, Tsalats Rasail fi I’jaz al-Quran, Hurramani, al-Khithabi dan Abdul Qahir al-Jurjani yang telah diteliti oleh Muhammad Khalf Allah dan Muhammad Zaghul Islam, Kairo, Dar al-Ma’arif.

(islamsyiah.wordpress.com)
http://jejakjejakjejak.wordpress.com/2009/11/10/estetika-al-quran-yang-luar-biasa/


Selengkapnya...

Minggu, 01 November 2009

Yakinkan Ada Sudah Cukup !!!

A. Sebutan Tuhan

Sahabat-sahabat, kadang kita terlalu cepat ‘memagari diri’ dari istilah-istilah yang kita anggap tidak berada dalam domain yang sama dengan agama kita. Terlalu cepat ‘mengkafirkan’. Bukan mengkafirkan orang lain, tapi mengkafirkan bahasa (lain). Dengan memagari diri seperti ini, apalagi dengan didahului prasangka, maka dengan sendirinya kita akan semakin sulit saja memahami hikmah kebenaran yang Dia tebarkan di mana-mana.

Padahal, dalam Qur’an pun Allah menjelaskan bahwa beragam bahasa adalah tanda dari-Nya juga.

“Dan diantara ayat-ayatnya ialah menciptakan langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi orang-orang berilmu (’Alimiin).” Q.S. 30 : 22.
Jika ada orang menyebut tuhannya sebagai Yehovah, Eloh, Eloheim, atau Adonai, mekanisme dalam pikiran kita mendadak seperti mencipta imaji-imaji bahwa ada banyak tuhan yang sedang berjejer, sesuai urutan sesembahan yang ada sepanjang masa. Ada tuhan yang disebut Yehovah, Eloheim, Jahveh, Brahma, Manitou, Zeus, Allah, Tuhan Alah, dan lain sebagainya. Sedangkan yang kita sembah adalah yang disebut Allah, yang lainnya bukan, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuhan kita dan agama kita. Pokoknya thoghut, atau kafir.

Benarkah begitu? Bukankah Tuhan hanya satu? Bukankah ‘Laa ilaaha Ila’Llah’ artinya tiada Tuhan selain Allah? Wallahu ‘alam, meski saya mengerti bahwa Tuhan hanya satu, tapi saya belum mengetahui secara total makna lahiriyah maupun batiniyah dari kalimat syahadat itu. Tapi setidaknya, bukankah cara berfikir yang seperti tadi juga berarti bahwa tanpa sadar pikiran kita telah menyejajarkan Dia dengan selain-Nya? Atau, secara halus dan tersamar sekali, itu artinya kita masih mengakui bahwa ada banyak entitas dalam satu himpunan tuhan, dan Allah adalah salah satu dari yang ada dalam himpunan itu. Bukankah itu keterlaluan?

Istilah ‘Allah’ sudah ada sejak sebelum Al-Qur’an turun. Sebelum junjungan kita Rasulullah menerima wahyunya yang pertama, bangsa Arab sudah menggunakan kata- kata ‘demi Allah’ jika mengucapkan sumpah. Hanya saja, mereka juga sering menyebut nama patung-patung mereka, ‘demi Lata’ atau ‘demi Uzza’, ‘demi punggung istriku’, atau bahkan ‘demi kuburan ibuku’, dalam sumpah mereka.

Kapan istilah ‘Allah’ pertama kali dikenal manusia? Tidak tahu persis. Diperkirakan tidak akan jauh dari periode kemunculan agama Islam yang dibawa Rasulullah di tanah Arab. Tapi apakah berarti, pada periode sebelum itu, Allah diam saja di langit sana, dan tidak memperkenalkan diri-Nya? Rasanya kok tidak demikian ya. Saya suka bertanya-tanya, misalnya dengan nama apa Allah mengenalkan diri-Nya pada nabi Ya’kub as dan nabi Musa as, nabi bangsa Bani Israil? Karena pada kenyataannya, bangsa yahudi sekarang tidak menyebut nama-Nya dengan sebutan ‘Allah’ yang sesuai dengan bahasa Arab.

Kitab suci dari Allah yang kita kenal ada empat: Taurat, Zabur, Injil, dan kitab penutup dan penyempurna semuanya, Al-Qur’an. Taurat, atau Torah, turun kepada Nabi Musa as. Karena Musa adalah orang Bani Israil, tentu kitab yang turun pun berbahasa mereka, Ibrani. Demikian pula Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Semua turun dan disampaikan dengan bahasa penerimanya.

Jadi, apakah salah jika orang yang kebetulan beragama lain, menyebut nama Allah dengan nama yang turun pada bahasa kitab mereka? Apakah itu Tuhan yang lain? Belum tentu. Sekali lagi, kita tidak boleh terlalu cepat ‘mengkafir-kafirkan’, termasuk mengkafirkan bahasa dan istilah.

Ada banyak sekali irisan kemiripan bahasa-bahasa agama dalam sejarah. Sebagai contoh, nama ‘Allah’, sangat mirip dengan ‘Eloh’. Dalam kitab-kitab Ibrani, Tuhan disebut sebagai ‘Eloheim’. Dari asal kata ini, kita mengerti misalnya arti kata ‘betlehem.’ Dari asal katanya, Bethel dan Eloheim. ‘Bethel’ bermakna rumah, dan ‘Eloheim’ adalah Allah. Rumah Allah. Jika demikian, apa bedanya kata ‘Betlehem’ dengan ‘Baytullah’?

Juga ‘Yehova’ atau ‘Yahwe’, sangat mirip dengan ‘Ya Huwa’, Wahai Dia (yang tak bernama). Yang agak ‘mencurigakan’, adalah inti ajaran Socrates, ‘Gnothi Seauthon’, yang artinya adalah ‘Kenalilah Dirimu.’ Dari segi makna, ini sangat mirip dengan inti hadits yang sering diulang-ulang oleh para sahabat Rasulullah maupun para sufi terkemuka, ‘man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu,’ mereka yang ‘arif tentang dirinya, akan ‘arif pula tentang Rabb nya.’ Esensinya sangat mirip: mengenal diri. Dan sebuah fakta yang tak kalah menariknya, sejarah mencatat bahwa Socrates adalah guru dari Plato, Plato guru dari Aristoteles, dan Aristoteles adalah guru dari Alexander of Macedon. Sosok yang terakhir ini oleh sebagian ahli tafsir disamakan dengan Iskandar Dzulqarnayn, sosok panglima yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua tuhan sama saja, yang berbeda hanya namanya. Atau dewa pada tiang totem yang disembah bangsa indian apache adalah Allah juga. Bukan begitu. Saya hanya mengatakan bahwa kita sebaiknya jangan terlalu ‘alergi’ dengan kata-kata agamis dari agama lain. Kita harus berhati-hati sekali untuk ‘mengkafirkan’ istilah. Sebab kalau ternyata salah, maka artinya kita ‘mengkafirkan’ sebuah hikmah atau sebuah tanda dari-Nya. Maka kita akan semakin jauh saja dari kebenaran.

Bukankah Allah pasti menyebarkan jejak-Nya di mana-mana, sepanjang zaman? Dan jangan berfikir bahwa Allah hanya pernah dan hanya mau ‘muncul’ di agama kita saja. Ini berarti kita, sebagai makhluk, berani-berani menempatkan Allah dalam sebuah himpunan, ke sebuah konsep di dalam kepala kita. Himpunan deretan tuhan, atau himpunan kelompok agama.

Allah adalah Tuhan. La Ilaha Ilallah. Dia ada di luar himpunan apapun. Dia tak beragama, dan tidak memeluk agama apapun. Karena itu, kita jangan berfikir, baik sadar maupun tidak, bahwa Allah ‘beragama Islam’.

Agama diciptakan-Nya sebagai jalan untuk memahami-Nya, memahami kehidupan, dan memahami diri ini. Segala sesuatu Dia ciptakan dan Dia akhiri. Maka Allah adalah sumber dan akhir segalanya. Dua asma- Nya adalah ‘Al-Awwal’ dan ‘Al-Akhir’. Ini pun sebuah kebetulan yang menarik, karena bangsa Yunani kuno, bangsanya Socrates dan Plato, eyang guru dari Alexander tadi, juga menyebut salah satu nama yang dimiliki Tuhan mereka sebagai ‘Alpha Omega’, berarti ‘Yang Awal dan Yang Akhir’ (Alpha = Alif = huruf awal dalam alfabet yunani dan arab, simbol ‘awal’; sedangkan Omega = huruf terakhir dalam alfabet yunani, simbol ‘akhir’). Kemiripan yang sangat menarik, ya?



B. Asma-asma Allah.

Allah, adalah sebuah zat, sebuah entitas, yang tertinggi. Tak terbandingkan, tak terukur, tak terperi. Lalu apakah kita, sebagai makhluk, memungkinkan untuk menempatkan Dia ke dalam kepala kita, menaruhnya ke dalam sebuah konsep ‘nama’? Tentu tidak. Dia, secara utuh, secara menyeluruh, secara real, sesungguhnya tak bernama. Tak ada apapun yang bisa membungkus-Nya, termasuk sebuah nama.

Lalu untuk apakah, atau nama-nama siapakah, yang berjumlah sembilan puluh sembilan sebagaimana diperkenalkan dalam Al-Qur’an, dan disusun sebagai ‘asma’ul husna’? Nah, itu adalah bukti begitu penyayangnya Dia pada makhluknya yang satu ini, manusia.

Penjelasannya begini. Dia Yang Tertinggi jelas tak mungkin dibungkus atau terliputi oleh apapun, termasuk sebuah nama. Tapi Dia bersedia ‘menurunkan derajat-Nya’ demi supaya lebih dimengerti oleh manusia. Maka Dia memperkenalkan diri-Nya, bagi mereka yang ingin mengenal-Nya di tahap awal, dengan memisalkan dirinya dengan nama-nama sifat manusia. Memisalkan diri-Nya dengan nama-nama yang memungkinkan untuk dideskripsikan dalam bahasa manusia.

Ambil contoh, Ar-Rahmaan (Maha Pengasih) atau Ar-Rahiim (Maha Penyayang). Kita bisa memahami makna dua kata ini, karena nama sifat-sifat ini, pengasih dan penyayang, adalah nama sifat yang juga ada pada manusia. Tapi dari segi makna, kedua kata ini dalam memperkenalkan nama sifat-Nya sebenarnya telah mengalami degradasi makna yang amat sangat.

Maha Pengasih, atau Ar-Rahmaan, adalah ‘hanya’ bahasa manusia yang paling memungkinkan untuk menggambarkan salah satu sifat-Nya. Tapi kedalaman makna istilah ini telah berkurang jauh sekali, karena Dia, yang Tak Terperi, memisalkan diri-Nya dengan istilah manusia yang jelas tak memadai untuk melukiskan diri-Nya yang tak terbatas. Dalam asma’ul husna, misalkan istilah ‘Ar-Rahim’, sebenarnya ‘hanya’ merupakan sebuah istilah yang masih memungkinkan untuk bisa terpahami oleh manusia. Sifat Penyayang-Nya yang asli, yang real, yang tidak bisa dimisalkan dengan bahasa manusia, adalah jauh, jauh, jauh lebih penyayang lagi, melebihi apa yang tergambar pada sepotong kata ‘Ar-Rahim’.

Demikian pula untuk ke-98 asma asma Allah yang lain. Semua nama-nama tersebut, sebenarnya mengalami degradasi makna yang sangat jauh dari aslinya, demi supaya terpahami oleh kita, manusia. Sifatnya yang asli, tak terkira jauhnya melebihi apa yang mampu tergambarkan oleh sepotong kata dalam bahasa kita, manusia.

Allah telah berkenan ‘merendahkan diri-Nya’ ke dalam nama sifat-sifat manusia, yang jauh, jauh lebih rendah dari kedudukan-Nya yang asli. Ia bersedia dipanggil dengan bahasa kita. Ini sebuah bukti kasihsayang-Nya yang amat sangat. Bisakah kita membayangkan, misalnya ada seorang raja yang kerajaannya mencakup lima benua, lalu bersedia turun berjalan di pasar kumuh dan mau dipanggil dengan bahasa pasar, seperti ‘Lu’, ‘Sia’, atau ‘Kowe’? Raja tentu akan sangat murka. Tapi Dia, Allah, tidak. Meskipun Dia Maha Tinggi kedudukannya, tapi Dia bahkan bersedia memperkenalkan diri-Nya lebih dahulu (!), dan membahasakan diri-Nya dengan bahasa manusia, dan mencontohkan asma-Nya dengan sifat manusia.

‘Dia’ yang asli, sesungguhnya tidak bernama. Lalu istilah ‘Allah’ itu apa? Istilah itu ‘hanyalah’ bagian dari asma’ul husna, pada urutan yang pertama.

Istilah ‘Allah’, menurut seorang ahli hikmah, sebenarnya sebuah simbol juga. Menurutnya, istilah ‘Allah’, yang terdiri dari:

‘alif’, ‘lam’, ‘lam’ dan ‘ha’,

sesungguhnya merupakan singkatan dari kata bahasa Arab:

‘Al/Alif - li - li - hu/huwa’.


Al’ dalam bahasa Arab bermakna kata ganti tertentu, maknanya sama seperti ‘The’ dalam bahasa Inggris, atau seperti ‘El’ dalam bahasa Ibrani dan bahasa Spanyol. Maknanya, katakanlah, ’sesuatu’. Huruf ‘Alif’ bermakna ’sesuatu yang tegak’, ‘Allah’, atau bisa juga ‘yang mengawali’, mirip seperti alpha dalam aksara Yunani. Kata ‘Li’ dalam bahasa Arab bermakna ‘bagi sesuatu’, dan dalam lafaz ‘Allah’ kata ini diulang dua kali. Sedangkan ‘hu’ atau ‘huwa’ bermakna ‘Dia’.

Jadi lafaz ‘Allah’, kata yang di dalam Al-Qur’an paling sering dipakai-Nya untuk menyebut diri-Nya, sebenarnya sama sekali tidak mencakup keseluruhan zat-Nya. Lafaz ‘Allah’ sebagai simbol, sebenarnya justru mempertegas bahwa ‘Dia’ adalah tak bernama. Mengapa demikian? Karena jika makna ini dibaca secara keseluruhan, maka “Al, li, li, hu” kurang lebih maknanya adalah ‘Sesuatu, yang baginya diperuntukkan, dan sesuatu ini diperuntukkan, untuk Dia.” Jadi artinya secara sederhana adalah, ‘(simbol) ini diperuntukkan, dan permisalan ini diperuntukkan, untuk Dia (yang tak bernama).”

Dia yang asli, sebagai zat (entitas), sama sekali tak bisa diliputi oleh sebuah nama.

C. Hadits Rasulullah yang mengandung simbol serupa.

Kalau kita teliti dalam memperhatikan hadits berikut ini, kita akan mengerti bahwa Rasulullah bukan orang yang berkata dengan ‘pendapatnya sendiri’. Orang dalam tingkatan maqam seperti Rasulullan saw., tentulah setiap tindak tanduk dan perkataanya sudah sepenuhnya dalam bimbingan Allah swt. Tampak dari demikian akuratnya simbol-simbol yang digunakan, meskipun jika kita baca secara sepintas hadits ini sangatlah sederhana dan tidak bermakna dalam. Hanya kalau kita teliti, betapa dalam dan akuratnya simbol yang Beliau gunakan dalam kata- katanya.

Kita lihat hadits berikut ini:

Diriwayatkan dari riwayat Abu Hurairah ra.:

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat?”

Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama?”

Para sahabat menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.”

Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan?”

Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.”

Rasulullah saw. bersabda, “Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia kelak mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala.”

[H. R. Muslim no. 267]

Sepintas, hadits ini hanya berisi tentang melihat Allah di hari kiamat. Tapi kalau kita teliti lebih jauh perumpamaan yang digunakan dengan kacamata ilmu astronomi yang pada saat Rasul mengatakan hadits tersebut ilmu ini belum semaju sekarang, sebenarnya hadits ini juga menjelaskan bahwa ada bagian dari ‘Dia’ yang tak akan bisa kita kenali. Kita cermati perumpamaan bulan purnama yang dipakai beliau dalam hadits ini.

Sebagaimana kita tahu, pada saat bulan purnama di langit malam yang cerah, kita bisa melihat bulan ’seluruhnya’. Kata seluruhnya ini saya beri tanda kutip, karena memang ’seluruhnya’ itu semu. Kita melihat –seakan-akan– bulan tampak seluruhnya dari mata kita. Kita, saat itu, seakan-akan bisa ‘mengenal’ bulan seluruhnya.

Nah, di zaman modern ini, kita tentu mengetahui bahwa bulan adalah sebuah ’satelit,’ sebuah planet kecil yang mengelilingi bumi. Periode waktu rotasi bulan, sama persis dengan periode lamanya bulan mengelilingi bumi. Jadi, permukaan bulan yang menghadap bumi setiap saat adalah sisi yang sama persis, yang itu-itu saja. Tidak berubah.

Demikian pula, ada sisi lain di balik bulan yang akan selalu tidak tampak dari bumi, yang setiap saat akan selalu membelakangi bumi, tidak akan pernah terlihat dari bumi. Dengan kata lain, jika kita berdiri di sisi bulan yang terlihat dari bumi, maka meski bulan berotasi sambil terus mengorbit mengelilingi bumi, kita akan selalu terlihat dari bumi. Sebaliknya, jika kita berdiri di sisi bulan yang tidak terlihat dari bumi, maka kita tidak akan pernah terlihat dari bumi pula.

Inilah sebabnya, sejak zaman manusia pertama ada hingga sekarang, permukaan bulan yang tampak dari bumi kelihatannya tak pernah berubah, karena sisi yang menghadap bumi senantiasa merupakan sisi yang sama.

Di hadits ini, Rasul memisalkan Allah sebagai bulan purnama. Bulan, sebagaimana telah dijelaskan tadi, hanya ada satu sisi yang bisa terlihat oleh kita. Jadi, secara tersirat dalam hadits tadi, Rasulullah juga menjelaskan bahwa sesempurna- sempurnanya pengenalan seseorang akan Allah (seperti orang yang telah mencapai maqam para sahabat Beliau itu), sebenarnya barulah satu sisi dari Dia saja. Sisi yang memang Dia hadapkan sepenuhnya kepada manusia. Sisi inilah yang dalam bahasa agama disebut sebagai “Wajah-Nya.”

Tapi sampai kapan pun, akan tetap ada sisi lain dari Dia yang tidak akan pernah terpahami oleh manusia (karena Dia sesungguhnya Maha Tak Terbatas). Dan keseluruhan ‘Dia’ secara utuh, yang bisa dikenali dan yang tidak, dalam bahasa agama disebut “Zat-Nya,” atau entitas-Nya, secara keseluruhan.

Jadi sekarang kita bisa lebih memahami, jika dalam Al-Qur’an atau doa yang diajarkan Rasulullah mengandung kata-kata ‘wajah Allah’ atau ‘wajah-Nya (wajhahu)‘, maka itu bukan berarti bahwa Dia memiliki wajah di depan kepala seperti kita. Itu maknanya adalah, konteks ‘Dia’ dalam kalimat itu adalah pada sisi yang masih bisa kita kenali. Sedangkan Zat-Nya yang utuh tidak akan pernah bisa kenali.

Mengenai zat-Nya, Al-Qur’an sendiri cukup menerangkan seperti ini:

“…laysa kamitslihi syay’un”

“… dan tiada sesuatupun yang bisa dijadikan permisalan untuk Dia.” (QS. 42 : 11)

Rasul melarang manusia memikirkan zat-Nya, dalam sabdanya, “Berfikirlah kalian tentang makhluk Allah, dan jangan sekali-kali berfikir tentang zat-Nya, sebab kalian akan binasa.” Bahkan Beliau sendiri pun mengakui bahwa dirinya tidak memahami ‘Dia’ dalam konteks zat, sebab dalam sabdanya Beliau menjelaskan, “sesungguhnya aku adalah orang yang bodoh dalam ihwal zat Tuhanku.”

Kembali pada contoh bulan di atas. Bulan, sesuai periode edarnya, akan tampak dari bumi bermacam-macam bentuknya, mulai dari bulan hitam (bulan tak tampak), bulan hilal, bulan sabit, bulan setengah, hingga bulan purnama.

Sebenarnya demikian pula pengenalan manusia kepada Allah ta’ala. Ada yang tidak mengenal sama sekali (bulan hitam), ada yang pengenalannya setipis hilal, ada yang pengenalannya seperti bulan setengah, dan ada pula yang pengenalannya terhadap Allah telah ‘purnama’. Namun demikian, sebagai zat tetap saja Dia tidak akan pernah terpahami sepenuhnya oleh manusia, karena Dia adalah Maha Tak Terbatas.

Dari sini saja, kita bisa mengerti bahwa faham panteisme, atau menyatunya Tuhan dan manusia sebagaimana yang dituduhkan kepada kaum sufi, adalah tidak tepat. Tentu mustahil sesuatu yang tak terbatas bisa terlingkupi oleh sesuatu yang terbatas.

Agaknya yang dituduhkan pada kaum sufi sebagai panteisme atau penyatuan, sebenarnya yang terjadi adalah ’sirna kediriannya’. Contohnya seperti cahaya lilin yang akan lenyap cahayanya jika diletakkan di bawah cahaya matahari. Ini masih perlu kita kaji lebih lanjut. Atau paling tidak, agaknya tidak semua sufi meyakini panteisme. Seperti kata teman saya: “Sufi, pantheisme? Sufi yang mana dulu, nih?”

Sekarang, dari cara Rasulullah memberikan contoh pada dalam hadits di atas, kita bisa lebih mengerti kira-kira sedalam apa akurasi hikmah dari kata-kata seseorang jika telah ada dalam tingkatan maqam seperti junjungan kita Rasulullah Muhammad saw. Tentu beliau tidak asal ambil contoh saja, seperti ketika kita sedang berusaha menerangkan sesuatu kepada orang lain. Sekarang semakin jelas pula bahwa segala sesuatu dari diri Beliau telah ditetapkan dalam bimbingan Allah ta’ala, bahkan sampai hal ’sepele’ seperti mengambil contoh yang tepat ketika menerangkan sebuah persoalan.

Juga sebagaimana hadits Rasulullah tadi, segala sesuatu dalam ciptaan-Nya pun tidaklah semata-mata hanya sebagaimana yang tampak dari luar. Allah tentu tidaklah sesederhana itu. Seperti hadits tadi, segala sesuatu juga mengandung makna batin. Alam semesta, bulan, bintang, batu, hewan, tumbuhan, manusia, syariat (ada syariat lahir dan tentu ada syariat batin), dan lain sebagainya. Sedalam apa seseorang melihat maknanya, tentu sangat tergantung pada kesucian qalbnya, sarana untuk menerima ilmu dari-Nya.

Kini kita bisa sedikit lebih mengerti pula, seperti apa kira-kira kesucian qalb Rasulullah saw, jika kata-kata Beliau mampu menyederhanakan kandungan makna yang sedalam itu (itupun baru yang bisa kita ungkapkan) dalam kesederhanaan simbol-simbol yang sangat akurat.

Kalau Al-Qur’an? Lebih tak bisa kita bayangkan lagi seperti apa sesungguhnya kedalaman kandungan makna Al-Qur’an.

Semoga bermanfaat,

Herry Mardian
http://suluk.blogsome.com

Selengkapnya...

Minggu, 25 Oktober 2009

Shambala Multidimentional Healing

Shambala Multi Dimensional Healing
Shamballa Multidimensional Healing ( SMH ) atau Shamballa Reiki adalah suatu teknik energi esoteris yang ada pada zaman atlantis kuno, yang diperkenalkan pertama kalinya oleh Dr. John Armitage, atau lebih dikenal dengan julukan Hari Das Melchicedeck, seorang pakar meditasi dan teknik merkaba yang berasal dari Inggris. SMH diperoleh John Armitage dari channeling terhadap Ascended Master yang dikenal dengan nama St. Germain.
St. Germaine pertama kali menciptakan teknik SMH ini pada era Atlantis kuno, dan ketika benua Atlantis tenggelam, ia diketahui pindah ke kawasan Tibet lama, dimana akhirnya teknik SMH ini disempurnakan. SMH bukan hanya suatu sistem penyembuhan energi, lebih jauh lagi SMH merupakan suatu teknik untuk mempercepat akselerasi kesadaran spiritual.
Pada era atlantis SMH dikembangkan oleh St. Germain, hingga mengenal 22 macam simbol. Akan tetapi pada saat ini SMH telah mencakup simbol sejumlah 352, yang melambangkan lapisan kesadaran spiritual yang dipersiapkan melalui inisiasi SMH ( pada tingkatan Master Teacher ).
Simbol - simbol ini tidak seluruhnya diberikan gambarannya secara fisik, sehingga disebut juga sebagai simbol eterik, yang diletakkan melalui medan merkaba, dan simbol - simbol ini akan aktif setiap saat kesadaran tinggi membutuhkannya.
Kelebihan shamballa:
* Kuncinya adalah Unconditional Love, kita akan menjadi 'alat' yang dipakai oleh Tuhan untuk menyebarkan cinta-kasihNya nan murni contoh: menyembuhkan orang lain dsb
* Dalam attunement shamballa , praktisi akan dihubungkan dengan roh/monadnya serta dihubungkan dengan Sumber Dari Segala Sesuatu
* Akan terbuka sebuah cakrawala baru dalam memahami kehidupan, memahami hidup dan memahami Yang Menghidupkan.
* Shamballa tdk mengajarkan praktisi terkondisi dengan berbagai peraturan yang rumit, ia lebih menganjurkan mengikuti suara hati/intuisi
* Dalam attunement tk 1 lapisan2 sekeliling tubuh yang mempunyai berbagi bentuk geometris sudah diaktifkan (disebut juga MERKABA)
* Shamballa mempunya 352 simbol energi yang tidak perlu digambar, semuanya akan di masukkan kedalam lapisan2 energi tubuh, sesuai dengan tingkatannya
* Secara bertahap akan meningkatkan Strands DNA dari 2 sampai 12.

Sekali anda menerima attunement Shamballa MDH, anda juga akan menerima attunement Golden Flower of Life, Silver Violet Flame, Mahatma Un-Conditional Love, pengaktifan Merkaba tubuh, attunement Chakra Ilahi (sesuai tingkatan masing-masing), attunement Heaven Star, Earth Star, 12 Pointed Star yang ada di chakra Jantung anda, hak akses dengan para celestial beings dll.

Sistem tingkatan Shambala :
SMH 1
Shambala energy, dimana teradi peningkatan vibrasi energi 3 x lipat dibandingkan Reiki tingkat 3.

SMH 2
Praktisi memperoleh 7 buah simbol Chokurei, Seiheiki, Honshazeshonen, Antahkarana, Merkafakalishma, Zonar, Motor – Zanon. Simbol-simbol ini bermanfaat untuk kebutuhan-kebutuhan khusus tergantung dari fungsi masing-masing simbol.

SMH 3 (Master)
Praktisi memperoleh 15 simbol dan symbol Master, praktisi dapat memberikan Attunement SMH I

SMH 4 (Master Teacher)
Praktisi memperoleh symbol master (bisa memberikan Attunement secara penuh)

Selengkapnya...

Karuna Ki

Karuna Ki berarti Energi Kasih Sayang atau lebih tepatnya disebut sebagai Jalan Bagi Energi Cinta Kasih Tuhan. Karuna Ki menyembuhkan dan menyebarkan Cinta Kasih dari Sang Pencipta pada seluruh ciptaanNya. Karuna Ki adalah Energi Penyembuhan yang berpusat pada Hati Nurani.

Dengan berfokus pada Cinta Kasih pada seluruh ciptaan yang mengalir melalui diri anda, Energi Karuna akan memberikan hasil yang terbaik. Hati Kasih Sayang adalah ungkapan terbaik untuk menjelaskannya.
Inisiasi Karuna Ki disajikan dengan maksud untuk menjalin dan menjadikannya sebagai suatu bentuk kasih Tuhan. Usaha yang dilakukan merupakan cinta kasih dan berkat untuk melakukannya dan untuk menerimanya. Dalam hal ini Karuna Ki sangat spesifik dalam memberikan arti kasih sayang. Dan hal tersebut bukan hanya kasih saat menyembuhkan, namun juga usaha untuk menyebarkannya ke seluruh dunia melalui seluruh perilaku kita.
Karuna Ki ditawarkan sebagai Seni Menyembuhkan dan Latihan Spiritual. Tidak ada pengakuan yang lain selain hal itu.

Karuna Ki adalah seni penyembuhan dengan penumpangan tangan disertai dengan cinta kasih. Dan jalan untuk berhubungan dengan kasih itu sendiri dan menyebarkannya pada seluruh mahluk hidup.

Penyembuhan Karuna Ki menggunakan hubungan dengan Way of Compassion (Jalan Cinta Kasih) untuk membawa energi kehidupan yang penuh kasih kedalam diri sesorang untuk menyembuhkan dan menyeimbangkan.

Sejarah perkembangan Karuna dimulai dari perjalanan seorang Reiki master yang bernama kathleen Milner dan karcy Miller ke negara India pada bulan Januari 1991, untuk menemui seorang avatar yang di kenal sebagai Sathya Sai baba.
Marcy Miller bahkan sempat tinggal beberapa lama di Ashram sathya sai baba, dan melakukan Berbagai Kegiatan spiritual, dan akhirnya dengan bimbngan Sathya Sai baba, secara spiritualIa menemukan ia menemukanbahwa proses inisiasi Reiki yang selama ini diketahui ternyata hanyalah sebagian dari Reiki yang seharusnya. Oleh Karena itu pada bulan Februari 1991, Kathleen Milner merubah cara Insiasinya dan melakukan inisiasi ulang terhadap seluruh praktisi Yang pernah diberinya Attunment Reiki.

Pada bulan Mei 1991, Sathya Sai Baba kembali memberikan 2 simbol untuk menaikan vibrasi dari Reiki-Ray yang dihasilkan sangat tinggi, dan selanjutnya dinamakan dengan Tera-Mai Reiki.
Pada tahun 1992, beberapa Tera-Mai Reiki memperagakan beberapa simbol-simbol Tera-Mai dan Prosedur Attunment Tera-Mai dihadapan William Lee Rand (pendiri The Center for reiki Training , USA )

Berdasarkan dari informasi tersebut, akhirnya William Lee Rand untuk melakukan riset dan pengembangan secara lebih jauh bersama pakar-pakar energi lainnya yang tergabung di The Center for Reiki Training (antara lain Glend derrick, seorang Reiki master dan Chi Kung Master). Pada Akhirnya William Lee Rand berhasil menciptakan aliran Reiki baru dengan vibrasi energi baru Yang di sebut dengan Sai Baba Reiki
Di pusat pelatihan Reiki dibawah pimpinan William Rand ini, Sai Baba Reiki di anggap memiliki vibrasi yang lebih enhanced, oleh karena itu hanya dapat diberikan kepada mereka yang telah berada di tingkat Master pada Traditional Reiki

Di kemudian hari dengan alasan etika, maka Sai Baba Reiki diubah namanya menjadi Karuna Reiki dan didaftarkan sebagai Trade Mark â„¢ dari William Rand. Samai suatu saat sekelompok Reiki Master Independent melakukan sedikit pengubahan sistem, dan menamakannya dengan Karuna Ki, yang kini dapat dipelajari siapa saja, tanpa perlu membayar royalti kepada William Rand.

Manfaat Menerima Inisiasi Karuna Ki :
* Untuk menyatu dengan energi Karuna/ energi Cinta Kasih Tuhan.
* Untuk Peningkatan Spiritual dan Penyembuhan secara fisik, emosional, dan mental.
* Menghilangkan Trauma bawah sadar.
* Menghilangkan Trauma akibat pelecehan kanak-kanak.
* Penyembuhan Karma masa lalu.
* Meningkatkan Kesadaran dan Rasa Kemanusiaan pada saat meditasi.
* Mengembalikan Keseimbangan Mental dan penyembuhan secara mendalam akibat karma.
* Sebagai penormal ( katalis) terhadap anak yang perkembangan mentalnya lambat.
* Menghilangkan pola negatif yang terdapat di bawah sadar dan juga dapat menghilangkan keraguan dan penyangkalan.
* Membuka dan membersihkan saluran untuk mencapai Kesadaran Tinggi ( Higher Conciousness).
* Sebagai perisai atas serangan Psikis. ( santet, gangguan psikis dll).
* Menyembuhkan Emosi dan Sugesti yang berhubungan dengan hati nurani.
* Menyembuhkan suatu Hubungan antar manusia ( pertengkaran, kebencian, dendam ).
* Menghapuskan Kecanduan ( narkoba, obat-obatan terlarang dll).
* Mengembalikan cinta kepada Kehidupan, Profesi dan Karier ( mengembalikan diri pada realita kehidupan).
* Proteksi atas Kendaraan dari bahaya dan kecelakaan.
* Baik bagi seseorang yang sangat kurang kemauan belajarnya ( pendidikan formal maupun pelajaran kehidupan misal : malas belajar, kurang tabah, suka mengeluh dll).
* Membuat hubungan yang lebih kuat dengan Pribadi Tinggi dan membawa kesadaran tinggi kedalam tubuh sehingga menciptakan kesadaran jiwa.
* Menyeimbangkan mental dan emosi, duniawi dan surgawi, logika dan spiritual.
* Mentransformasikan pikiran menjadi perbuatan dan manifestasi fisik.
* Menyembuhkan Ketergesaan ( selalu ingin lekas selesai tanpa mengindahkan peraturan ).
* Menciptakan Keberanian untuk mengambil aksi atas rencana positif.
* Menyembuhkan bumi ( suatu daerah) yang mengalami bencana, kerusuhan dll.
* Menciptakan Kedamaian dan Kasih Sayang.
* Menyembuhkan Luka masa lalu.
* Menghilangkan Ketakutan dan Mimpi buruk.
* Membuat hidup saat ini Harmonis sehingga melupakan masa lalu yang kurang bahagia dan siap menghadapi Hari Esok.
* Membuat hidup saat ini Harmonis sehingga melupakan masa lalu yang kurang bahagia dan siap menghadapi Hari Esok.
* Melembutkan Aura sehingga memperbesar Kasih Sayang terhadap sesama.

http://www.privatreiki.com/karunaki.php
Selengkapnya...

Kundalini


Kundalini adalah suatu potensi energi dahsyat yang terdapat dalam diri setiap manusia. Kata Kundalini berasal dari bahasa Sanskrit yang berarti "gulungan". Sedangkan dalam terminology Barat, Kundalini disebut sebagai "Fire Serpent" Dalam Tradisi Yoga, Kundalini merupakan focus yang sangat penting karena kebangkitan Kundalini dianggap sebagai salah satu jalan untuk menyatu dengan Alam Semesta sebagai bagian dari proses "Pencerahan Spiritual".
Gulungan Kundalini terletak di sekitar tulang ekor dan pada umumnya potensi dahsyat ini masih dalam kondisi "tertidur" berbentuk tiga setengah lingkaran.
Membuka atau membangkitkan Kundalini berarti dimulainya pembersihan secara lengkap terhadap Cakra, bagian-bagian tubuh dan saluran energi / jalur eterik manusia.
Melalui tradisi Kundalini Reiki, praktisi tidak saja diberikan Inisiasi Reiki, melainkan juga diberikan "Shaktipat" yang akan membangkitkan dan menaikkan Kundalini praktisi. Praktisi Kundalini Reiki dapat memanfaatkan Energi Reiki dan energi Kundalini dalam waktu yang bersamaan.

Tradisi Kundalini Reiki merupakan salah satu cara terbaik dan aman sebagai teknik awal untuk mempelajari Kundalini. Tradisi ini juga sangat disarankan untuk diikuti oleh mereka yang mengalami Kundalini Syndrome akibat dari kebangkitan Kundalini spontan, maupun akibat dari kesalahan berlatih Kundalini.

Kundalini Reiki disebarluaskan oleh Grandmaster Ole Gabrielsen ( Denmark ) . Kundalini Reiki adalah hasil inisiasi langsung yang didapat dari Mr. Ole Gabrielsen dari Ascended Master Kuthumi.
Khutumi adalah Ascended Master yang ketahui secara fisik pernah hidup di wilayah India dan Tibet pada sekitar 19, dan terakhir dikenal sebagai guru spiritual di daerah Kasmir.
Saat ini ajaran dari Khutumi dapat diperoleh melalui kegiatan group chanelling yang dipimpin oleh Madame Blavatsky pendiri dari Theosophical Society.

Ole Gabrielson adalah seorang Grandmaster Meditasi dan kundalini dari Denmark yang sejak lama telah melakukan chanelling terhadap Khutumi, dan akhirnya mendapatkan inisiasi Kundalini Reiki dari Khutumi dan menyebarkan teknik kundalini Reiki ini pada masyarakat di seluruh dunia.

Tujuan aktivasi Kundalini membawa pada perluasan yang menyatakan bahwa Kesadaran Universal, Cahaya Kedamaian, dan Cinta Kasih bukanlah sebuah janji di masa depan namun merupakan suatu kemungkinan yang sifatnya dapat kita raih dengan segera.

Secara tehnis Kundalini Reiki terdiri dari 9 tingkatan, dimana 3 tingkatan awal adalah :

Kundalini Reiki I

Pengaktifan Cakra Mahkota, Cakra Jantung, Cakra Telapak Tangan dan Jalur Shumsumna. Seluruh peserta dalam seketika akan memiliki kemampuan untuk menyerap Energi Reiki dan menyalurkannya kembali untuk penyembuhan diri sendiri dan orang lain. Adapun Kemampuan yang dimiliki oleh praktsi Kundalini Reiki 1adalah sbb: Healing, Distance Healing, Cleansing Room, Healing the carmic band, Situation/Qualities healing. Energi Kundalini Reiki I adalah setara dengan energi Reiki Ushui tingkat 3

Kundalini Reiki II

Pengaktifan Cakra Ajna, Pembangkitan Kundalini ( Api Kundalini minimal berada di Cakra Pusar dan Energi Kundalini menembus Cakra Mahkota ). Seluruh peserta akan memiliki kemampuan untuk menyalurkan Energi Reiki dan Energi Kundalini. dan peserta akan mendapatkan teknik meditasi kundalini.

Kundalini Reiki III

Pengaktifan Cakra Tenggorokan, Cakra Pusar, Cakra Sex, Cakra Dasar dan penaikan Kundalini (Api Kundalini menembus Cakra Mahkota).Pada level 3 akan diberikan bonus attunement, yaitu: Balance Reiki, Diamond Reiki Energy, Crystalline Reiki, DNA Reiki, Birth Trauma Reiki, Location Reiki dan Past Life Reiki), dan 6 tingkatan berikutnya adalah Kundalini Reiki Booster dan bonus attunement Gold Reiki.
http://www.privatreiki.com/karunaki.php


Selengkapnya...

Reiki

Pengertian Reiki
Kata "Reiki" berasal dari bahasa Jepang.
Rei berarti alam atau universal
Ki berarti energi hidup atau kekuatan mental
Jadi Reiki bisa diartikan sebagai energi kehidupan yang berasal dari alam, dan bisa juga diartikan sebagai kekuatan mental yang ada secara universal.

Sejarah Reiki
Pada awalnya metoda penyembuhan Reiki berakar dari metoda penyembuhan yang dipakai di dataran tinggi Tibet .
Setelah berkembangnya agama Buddha teknik Reiki ini hanya diajarkan pada para pendeta dan dijadikan suatu ritual keagamaan oleh para pendeta Buddha (sekarang Lama).

Selama berabad-abad, metoda penyembuhan ini hanya dipakai di kalangan pendeta Buddha, sampai pada tahun 1914 ketika Mikao Usui dari Jepang berhasil menguasai teknik penyembuhan ini, dan menyederhanakannya.

Hasil penyederhanaannya diberi nama Reiki
Di tahun 1922 ia membuka klinik di Harajuku dekat Tokyo , dan mulai mengajarkan Reiki pada masyarakat Jepang. Untuk selanjutnya ia dikenal dengan sebutan Usui sensei dan sering disalah artikan sebagai seorang dokter.
Salah seorang murid Usui yang paling terkenal adalah Dokter Chujiro Hayashi.
Chujiro Hayashi menyederhanakan lagi teknik Reiki dan lebih mengutamakan posisi tangan, sementara Reiki yang asli lebih mengutamakan intuisi energi itu sendiri.
Reiki hasil penyederhanaan Hayashi inilah yang sekarang dikenal dengan Reiki Usui, sementara Reiki yang dari Usui sendiri dianggap sebagai Reiki Tibetan
Sampai di tangan Hayashi, pengajaran Reiki masih dibatasi di kalangan orang Jepang saja.

Tahun 1930 Hawayo Takata, wanita Jepang kelahiran Amerika datang ke Jepang dan jatuh sakit disana. Karena putus asa dengan pengobatan medis, ia datang ke klinik Reiki Hayashi dan setelah beberapa waktu ia sembuh total.
Ia berhasil membujuk Hayashi untuk mengajar ia Reiki sampai tingkat Master dan ia mempermudah proses inisiasi dan menambahkan berbagai hal yang menjadi awal dari Western Reiki.
http://www.privatreiki.com/kundalini.php


Selengkapnya...

Membuka Cakra


Banyak orang menyangka bahwa belajar Reiki identik dengan melakukan meditasi. Sebenarnya ini tidak seluruhnya benar. Tanpa melakukan meditasi pun asalkan Anda sudah mendapatkan penyelarasan (attunement) maka energi Reiki akan mengalir di dalam tubuh Anda.
sistem chakra di tubuh manusia

sistem chakra di tubuh manusia

Namun seiring perjalanan waktu dalam belajar Reiki kebutuhan meditasipun sebaiknya dipraktekkan karena dengan melakukan meditasi pada hakekatnya kita mengaktifkan chakra-chakra di dalam tubuh kita utamanya chakra utama sehingga akan diperoleh tubuh yang bersih energinya. Dengan energi bersih inilah tujuan hidup sehat dengan reiki bisa terwujud. Syaratnya melakukan latihan Reiki sesering mungkin.
Latihan dalam Reiki adalah semakin sering melakukan self healing juga healing kepada orang lain baik jarak dekat atau jarak jauh akan semakin meningkatkan kualitas jalur energi Praktisi Reiki. Sebagai Praktisi Reiki kita hanyalah “penyalur” energi Ilahi.

Perlu diketahui bahwa energi Reiki tidak akan habis digunakan. Sebab energi Reiki adalah energi alam semesta yang instan (ada dengan sendirinya). Begitu Anda membuat afirmasi dan mengarahkan energi reiki bekerja maka energi Reiki akan segera mengalir sesuai dengan afirmasi yang Anda ucapkan.

Ibarat pesawat Radio/televisi yang telah kita set frekwensi gelombang pada saluran tertentu, praktisi Reiki tinggal meniatkan energi bekerja dan mengalir maka Reiki pun mengalir dengan sendirinya di dalam tubuh Anda. Afirmasi ibarat menekan tombol on/off di pesawat televisi/radio Anda.

Seperti saluran air maka tubuh energi (tubuh eterik) juga perlu dibersihkan dengan menyalurkan Reiki sesering mungkin. Jika saluran energi pada tubuh energi (tubuh eterik) bersih dan melebar maka energi Reikii juga meningkat kualitas dan kuantitasnya.

Untuk membersihkan dan melebarkan jalur energi eterik inilah dalam Reiki dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a> Pernafasan Perut. (Untuk Praktisi Reiki dan Non Praktisi Reiki)

Pernafasan perut digunakan ketika meditasi dan penyaluran Reiki. Tujuannya untuk mengembangkan chakra utama dan juga menghimpun energi Reiki. Langkah-langkahnya sebagai berikut ini:

1. Duduk dengan rilek bisa bersila atau di kursi tanpa sandaran, senyumlah setiap mengawali meditasi ini.

2. Tarik nafas dengan santai melalui hidung sehingga rongga perut dikembungkan dan lepaskan nafas melalui mulut dengan bunyi mendesis sehingga perut mengecil ke dalam.

3. Untuk mengembalikan tenaga lakukan tarik buang nafas ini dengan pola nafas segitiga dengan rincian tarik nafas dalam 8 hitungan dan mentok di dada, lalu tahan sebentar nafas di dada 5 hitungan, kemudian buang nafas dalam 8 hitungan pula melalui mulut.Selesai tahan nafas sebentar, lalu lakukan pengulangan pernafasan segitiga ini sebanyak 10 kali.

b> Pernafasan 7 Chakra (P7C). (Khusus Praktisi Reiki)

Lakukan pernafasan hidung-mulut dengan memfokuskan pikiran pada Chakra Mahkota dan rasakan sensasi di titik Chakra ini. Lalu tarik nafas dalam hitungan 1-2-3-4-5-6 secara perlahan-lahan melalui hidung lalu tahan nafas di dada dalam hitungan 1-2-3-4. Perlahan-lahan buang nafas melalui mulut sebanyak 1-2-3-4-5-6. Selesai lalu ulangi sampai 3 kali tarik dan buang nafas. Kemudian pindahkan titik perhatian ke Chakra Ajna-Tenggorokan-Jantung-Solar Fleksus-Sex dan Chakra Dasar. Masing-masing chakra sebanyak 3 kali pengulangan.

Metode lain untuk mengembangkan Chakra-chakra utama dapat dilakukan dengan menggambar (Simbol Cho Ku Rei)- (Sei Hei Ki)- (Hon San Zo Se Nen) di Chakra Mahkota lalu arahkan kedua telapak tangan di Ubun-ubun (chakra Mahkota)dengan afirmasi, “Bersihkan – seimbangkan/ratakan lembaran chakra – bersihkan inti chakra”. Tahan sebentar kedua telapak tangan ini di Chakra Mahkota dan rasakan sensasinya. Selesai Chakra Utama lalu lakukan langkah serupa untuk Chakra-chakra utama lainnya dengan afirmasi Chakra Utama di ganti Chakra Ajna….dst…. hingga Chakra Dasar. Lalu lakukan pengembangan chakra secara sekaligus untuk 7 chakra utama secara bersamaan.

Bila latihan ini dilakukan secara rutin setiap pagi atau malam sebelum tidur maka akan mengembang pula chakra-chakra utama dengan cepat dan sempurna sehingga Chakra-chakra utama ini akan dapat menyerap energi alam semesta ke dalam tubuh dengan baik. Semakin bersih dan mengembang chakra utama maka semakin sehatlah tubuh energi Anda. Ketika tubuh energi Anda bersih maka akan didapatkan out put tubuh sehat berkat reiki. Semoga panduan singkat ini bermanfaat untuk Anda semua dan selamat berlatih.
http://vtrediting.wordpress.com/2009/01/19/388/


Selengkapnya...